Banjir 2014 - Berita Banjir di Karawang Januari 2014. Intensitas hujan yang beberapa hari terakhir cukup tinggi, ternyata tak hanya membuat ratusan rumah di Kabupaten Karawang terendam banjir. Sedikitnya 10 ribu hektare persemaian padi mengalami hal serupa.
Kepala Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan (Distanhutbunak) Karawang, Kadarisman mengatakan, ribuan hektare persemaian padi yang terendam banjir itu tersebar di 13 kecamatan yang ada. Kondisi terparah, sebut dia, terjadi di tiga kecamatan. Yakni, Cilamaya Kulon, Cilamaya Wetan serta Tempuran.
“Jika sudah terendam begini, biasanya persemaian tersebut akan membusuk. Kalau sudah seperti itu, petani tidak akan bisa tanam,” ujar Kadarisman kepada wartawan, Kamis (16/1/2014).
Selain merendam padi persemaian, terang dia, banjir pun merendam padi yang sudah ditanam. Berdasarkan hasil pendataan sementara, banjir tersebut telah merendam persemaian padi seluas 7.300 hektare, serta 2.700 hektare tanaman padi yang baru berusia 10 hingga 40 hari.
Kondisi tersebut, sambung dia, jelas akan membuat petani merugi. Sebab, persemaiannya ini dipastikan akan hancur tersapu banjir. Tapi, untuk tanaman padi yang sudah berada di petakan sawah dapat diselamatkan. Asalkan, genangan airnya tidak melebihi tiga hari.
“Untuk itu, kami akan terus pantau perkembangan banjir ini. Selain itu, kami akan menginventarisasi kebutuhan petani,” jelas dia.
Yang jelas, tambah dia, saat ini petani akan merugi lantaran harus melakukan dua kali penyemaian. Untuk itu, pihaknya akan mendata terkait kebutuhan petani.
“Kalau petani, pasti membutuhkan bantuan benih. Makanya, kami akan usulkan ke pusat untuk bantuan benih,” imbuh dia.
Kadarisman menambahkan, pihaknya mengimbau kepada petani untuk turut memantau perkembangan cuaca. Terutama, petani yang belum semai supaya mereka bisa menunda persemaian.
“Lebih baik menunda persemaian, daripada nantinya persemaian mereka malah hancur terendam banjir,” cetus dia.
Kepala Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan (Distanhutbunak) Karawang, Kadarisman mengatakan, ribuan hektare persemaian padi yang terendam banjir itu tersebar di 13 kecamatan yang ada. Kondisi terparah, sebut dia, terjadi di tiga kecamatan. Yakni, Cilamaya Kulon, Cilamaya Wetan serta Tempuran.
“Jika sudah terendam begini, biasanya persemaian tersebut akan membusuk. Kalau sudah seperti itu, petani tidak akan bisa tanam,” ujar Kadarisman kepada wartawan, Kamis (16/1/2014).
Selain merendam padi persemaian, terang dia, banjir pun merendam padi yang sudah ditanam. Berdasarkan hasil pendataan sementara, banjir tersebut telah merendam persemaian padi seluas 7.300 hektare, serta 2.700 hektare tanaman padi yang baru berusia 10 hingga 40 hari.
Kondisi tersebut, sambung dia, jelas akan membuat petani merugi. Sebab, persemaiannya ini dipastikan akan hancur tersapu banjir. Tapi, untuk tanaman padi yang sudah berada di petakan sawah dapat diselamatkan. Asalkan, genangan airnya tidak melebihi tiga hari.
“Untuk itu, kami akan terus pantau perkembangan banjir ini. Selain itu, kami akan menginventarisasi kebutuhan petani,” jelas dia.
Yang jelas, tambah dia, saat ini petani akan merugi lantaran harus melakukan dua kali penyemaian. Untuk itu, pihaknya akan mendata terkait kebutuhan petani.
“Kalau petani, pasti membutuhkan bantuan benih. Makanya, kami akan usulkan ke pusat untuk bantuan benih,” imbuh dia.
Kadarisman menambahkan, pihaknya mengimbau kepada petani untuk turut memantau perkembangan cuaca. Terutama, petani yang belum semai supaya mereka bisa menunda persemaian.
“Lebih baik menunda persemaian, daripada nantinya persemaian mereka malah hancur terendam banjir,” cetus dia.

