Banjir 2014 - Waspada Banjir di Kabupaten Lebak Banten Januari 2014. Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menetapkan status siaga banjir dan longsor karena curah hujan di daerah itu meningkat.
"Kami mengimbau warga yang tinggal di daerah aliran sungai maupun perbukitan agar meningkatkan kewaspadaan banjir dan longsor," kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi di Rangkasbitung, Jumat (17/1) malam.
Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banten, selama beberapa hari ke depan curah hujan meningkat di wilayah Kabupaten Lebak.
Curah hujan terjadi pagi, siang, sore dan malam hari hari berlangsung antara 3,0 jam sampai 3,5 jam.
Intensitas curah hujan dengan kapasitas ringan dan sedang sangat berpotensi bencana alam, seperti banjir dan longsor.
"Kami mengingatkan warga tetap meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi banjir dan longsor agar tidak menimbulkan korban jiwa," katanya.
Menurut dia, selama ini daerah rawan banjir dan longsor terdapat di daerah bantaran aliran sungai dan perbukitan. Masyarakat yang tinggal di daerah itu cukup banyak hingga ribuan kepala keluarga.
Biasanya, ujar dia, musim hujan daerah aliran sungai dan perbukitan langganan banjir dan longsor.
Sebaiknya, warga mengungsi ke tempat lain jika hujan terus menerus untuk menghindari jatuh korban jiwa.
"Kami sudah mengintruksikan kepada aparat camat dan desa agar warga waspada bencana alam menyusul tingginya curah hujan," katanya.
Kaprawi menyebutkan, jumlah desa di Kabupaten Lebak yang masuk kategori rawan banjir tahunan dan longsor tercatat 42 desa di Kecamatan Wanasalam, Banjarsari, Rangkasbitung, Warunggunung, Cileles, Cibadak, Leuwidamar, Bayah, Cikulur, Cimarga, Kalanganyar, Sobang, Cibeber, Cilograng, dan Sajira.
"Kami berharap masyarakat selalu siaga menghadapi cuaca ekstrem itu," ujarnya.
Ia menyebutkan pihaknya telah mempersiapkan personel maupun peralatan untuk melakukan evakuasi di daerah-daerah rawan banjir.
Namun, jumlah peralatan evakuasi relatif terbatas dengan memiliki enam unit perahu karet, tiga unit tenda kampas, lima unit tenda regu, tujuh unit tenda famili, dan 200 pelampung.
"Kami berharap adanya bantuan peralatan evakuasi itu sehingga dapat melayani masyarakat dengan baik jika terjadi banjir," ujarnya.
"Kami mengimbau warga yang tinggal di daerah aliran sungai maupun perbukitan agar meningkatkan kewaspadaan banjir dan longsor," kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi di Rangkasbitung, Jumat (17/1) malam.
Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banten, selama beberapa hari ke depan curah hujan meningkat di wilayah Kabupaten Lebak.
Curah hujan terjadi pagi, siang, sore dan malam hari hari berlangsung antara 3,0 jam sampai 3,5 jam.
Intensitas curah hujan dengan kapasitas ringan dan sedang sangat berpotensi bencana alam, seperti banjir dan longsor.
"Kami mengingatkan warga tetap meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi banjir dan longsor agar tidak menimbulkan korban jiwa," katanya.
Menurut dia, selama ini daerah rawan banjir dan longsor terdapat di daerah bantaran aliran sungai dan perbukitan. Masyarakat yang tinggal di daerah itu cukup banyak hingga ribuan kepala keluarga.
Biasanya, ujar dia, musim hujan daerah aliran sungai dan perbukitan langganan banjir dan longsor.
Sebaiknya, warga mengungsi ke tempat lain jika hujan terus menerus untuk menghindari jatuh korban jiwa.
"Kami sudah mengintruksikan kepada aparat camat dan desa agar warga waspada bencana alam menyusul tingginya curah hujan," katanya.
Kaprawi menyebutkan, jumlah desa di Kabupaten Lebak yang masuk kategori rawan banjir tahunan dan longsor tercatat 42 desa di Kecamatan Wanasalam, Banjarsari, Rangkasbitung, Warunggunung, Cileles, Cibadak, Leuwidamar, Bayah, Cikulur, Cimarga, Kalanganyar, Sobang, Cibeber, Cilograng, dan Sajira.
"Kami berharap masyarakat selalu siaga menghadapi cuaca ekstrem itu," ujarnya.
Ia menyebutkan pihaknya telah mempersiapkan personel maupun peralatan untuk melakukan evakuasi di daerah-daerah rawan banjir.
Namun, jumlah peralatan evakuasi relatif terbatas dengan memiliki enam unit perahu karet, tiga unit tenda kampas, lima unit tenda regu, tujuh unit tenda famili, dan 200 pelampung.
"Kami berharap adanya bantuan peralatan evakuasi itu sehingga dapat melayani masyarakat dengan baik jika terjadi banjir," ujarnya.

